Nammo Buddhaya, Om Swastyastu, Shalom aleichem,السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ, Wie De Dong Tian br />


Minggu, 10 April 2016

Sosok Orang Pinggiran di Sekitar Kita


Halo sahabat-sahabat saya, yang saya cintai. Rupanya guru kita ini masih ingin berjuang untuk kita, saya pikir dia sudah selesai waktunya di MIMI, ternyata kita masih di persulit dengan penulisan blog-blog yang susah, rumit, ribet. Tapi kan bagaimana pun, dia itu kan guru kita, dia berusaha memberikan yang terbaik untuk kita, jadi kita jalani saja. Jujur saya cukup tenang karena, tema penulisan kali ini bisa dibilang cukup mudah, malah kalau saya bilang “TIDAK MENANTANG!” ayolah pak Allan, kita ingin yang lebih.. sedangkan tema kali ini ?? apa ini ? Cuma main-main…  tema kita kali ini adalah “Sosok Orang Pinggiran di Sekitar Kita” kan ? pak Allan memang terlalu.. tema yang bapak berikan itu… jujur pak… “SAYA UPILI” tahu upil ? upil adalah kotoran yang tertahan akibat adanya bulu hidung… jadi jika tema yang bapak Allan berikan, saya upili, maksudnya tingkat kemudahan tema kali ini setara dengan membuang upil dari hidung kita.

     Bagi saya sih mudah saja, karena saya kan tinggal di kampung, jadi sekitar saya kan banyak orang-orang pinggiran. Tapi jangan salah sangka dulu, walau saya tinggal di kampung.. belum tahu kalian… tanah saya luas, sangat luas, rumah saya bertingkat, ayah saya punya 7 mobil.. perlu saya jelaskan ? nih.. ada Toyota pajero, Daihatsu avanza, Honda panther, isuzu mobilio, Mitsubishi alphard, Suzuki outlander, dan satunya Nissan bmw. Saya juga punya banyak hewan peliharaan, setiap hari hewan peliharaan saya, saya teraktir pizza. Bagaimana kehidupan saya ? tapi saya rasa sudah cukup, jika membahas kekayaan saya, tidak akan ada habisnya.

Orang pinggiran adalah orang-orang yang tidak memiliki penghasilan lebih, tentu karena pekerjaannya yang sangat minim. Masih belum jelas tentang orang pinggiran ? lihat saja, ada acara tv berjudul orang pinggiran di TRANS7, mungkin ditayangkan setiap sore. Saya yakin jika anda mempunyai perasaan, pasti kalian akan meneteskan air mata saat kalian menonton, tidak seperti saya, saya malah tertawa lebar, saat saya menonton, seperti menonton stand up. Selanjutnya saya akan bercerita mengenai orang pinggiran di sekitar saya.

Ia tetangga saya, namanya Paijon, biasa di panggil jonet. Dia seorang kepala rumah tangga, yang menghidupi 11 orang anaknya, saat dia berusia 44 tahun, dia di tinggal istrinya mungkin karena wajahnya kurang tampan, tetapi bagi saya pak Jonet lah yang tertampan. Saat ini Jonet berusia 65 tahun, rambutnya sudah dominan berwarna putih, badannya sudah mulai bungkuk, keriput di wajah mulai bermunculan.

Pak jonet hanyalah seorang petani, bayangkan saja sejak di tinggal istrinya, ia harus menghidupi sebelas anaknya. Pak Jonet sibuk bertani setiap hari, bahkan saat matahari tepat di atas kepala, pak Jonet pun rela bekerja demi menghidupi semua anaknya. Yang saya salut dari pak Jonet adalah, ia tidak pernah mengeluh, ia juga rajin beribadah, ia juga ramah terhadap orang lain, itu yang menyebabkan pak Jonet selalu di segani. Saat ini pak Jonet tinggal santai, 8 anaknya sudah sukses menjadi pengusaha elit di Jakarta. 3 orang anaknya masih harus menyelesaikan sekolahnya dan kuliahnya masing-masing.

selanjutnya saya akan bercerita mengenai tokoh yang saya gemari, ia adalah Bambang Mustari Sadino, yang kerap di panggil Bob Sadino. Sayangnya Bob Sadino sudah meninggal dunia pada 2015 lalu tepatnya bulan januari. Saat orang tuanya meninggal, saat itu Bob masih berusia 19 tahun, Bob mewaris seluruh kekayaan keluarganya, karena saudara-saudara Bob sudah dianggap hidup mapan. Bob menggunakan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Ia memilih menetap ke belanda dan bekerja di Djakarta Lyold di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Tahun 1967, Bob memilih untuk kembali ke tanah air, ia memilih untuk berkerja sendiri (apapun itu pekerjaanya). Ia memilih menjadi sopir taxi dengan menggunakan mobil Mercedes tuanya sendiri. Namu sayang, tidak lama kemudian ia mengalami kecelakaan. Mobilnya rusak parah, dan ia memilih untuk menjadi buruh.

Saat menjadi buruh, ia pun sempat mengalami depresi akibat tekanan dalam hidupnya. Suatu saat, temanya menyarankan Bob memelihara ayam untuk melawan depresi yang dialaminya. Bob tertarik. Ketika beternak ayam itulah muncul inspirasi berwirausaha. Bob memperhatikan kehidupan ayam-ayam ternaknya. Ia mendapat ilham, ayam saja bisa berjuang untuk hidup, tentu manusia pun juga bisa. Sebagai peternak ayam, Bob dan istrinya, setiap hari menjual beberapa kilogram telor. Dalam tempo satu setengah tahun, ia dan istrinya memiliki banyak langganan, terutama orang asing, karena mereka fasih berbahasa Inggris. Bob dan istrinya tinggal di kawasan Kemang, Jakarta, di mana terdapat banyak menetap orang asing.

Tidak jarang pasangan tersebut dimaki pelanggan, babu orang asing sekalipun. Namun mereka mengaca pada diri sendiri, memperbaiki pelayanan. Perubahan drastis pun terjadi pada diri Bob, dari pribadi feodal menjadi pelayan. Setelah itu, lama kelamaan Bob yang berambut perak, menjadi pemilik tunggal super market (pasar swalayan) Kem Chicks. Yang saya saluti adalah, ia selalu tampil sederhana, keman-mana selalu mengenakan kemeja putih dan jeans pendek di atas lutut.


Jadi, jika kita sudah kaya raya, kita itu harus ingat dari mana kita berasal. Orang-orang yang sudah kaya juga tidak boleh melupakan orang-orang pinggiran di sekitarnya. Amal itu lebih penting dari pada segalanya, jika kita menghargai orang-orang yang kurang mampu, maka tuhan juga akan menghargai kita. Saya mengucapkan permohonan maaf kepada bapak Allan, karena saya terlambat mengumpulkan blog mingguan. Sebenarnya saya sudah mengerjakan dari jauh hari, dan rencana akan saya posting pada hari minggu 10 april 2016 pada pukul 21.00, tetapi saya ketiduran. Semoga bapak Allan bisa pengertian.

~ Belajar akan lebih baik jika sesekali disertai candaan, rapat akan lebih baik jika sesekali disertai candaan. ~
- See more at: http://www.bijakkata.com/2014/06/Canda-bercanda-kata-Mutiara-Bijak.html#sthash.5ABkZHKx.dpuf

2 komentar:

  1. Kalau gini gimana saya bisa marah.

    Memang sengaja saya berikan ini. Karena fokus kalian di pembuatan film dokumenter.

    Santai saja bung, tampaknya terlalu takut jiwa saya labil akibat celotehan yang kau lontarkan melalui kepingan-kepingan kata. Bagi saya tidak masalah selama ini menunjukkan ciri khas dari kepenulisan seseorang.


    Terima kasih kata-kata bijaknya saya mengerti dan saya paham akan itu dan terima kasih telah mengingatkannya

    BalasHapus
  2. Kalau gini gimana saya bisa marah.

    Memang sengaja saya berikan ini. Karena fokus kalian di pembuatan film dokumenter.

    Santai saja bung, tampaknya terlalu takut jiwa saya labil akibat celotehan yang kau lontarkan melalui kepingan-kepingan kata. Bagi saya tidak masalah selama ini menunjukkan ciri khas dari kepenulisan seseorang.


    Terima kasih kata-kata bijaknya saya mengerti dan saya paham akan itu dan terima kasih telah mengingatkannya

    BalasHapus

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com
Diberdayakan oleh Blogger.